Senin, 05 Maret 2012

“Free Seks Dampak Runtuhnya Nilai Moralitas Remaja di tengah Arus Globalisasi”.

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dimana karena berkat dan rahmat-Nya saya bisa menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun guna memberikan pengetahuan tentang “Free Seks Dampak Runtuhnya Nilai Moralitas Remaja di tengah Arus Globalisasi”. Sehingga kita mengetahui apa itu free seks di zaman modern sekarang ini, banyak orang yang kurang mengetahui tentang free seks, sehingga free seks banyak terjadi di kalangan masyarakat, terutama di kalangan remaja (pelajar). Semua itu dikarenakan kurangnya ilmu pengetahuan yang ada pada diri seseorang atau remaja itu sendiri.
Kehadiran makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga tidak banyak terjadi penyimpangan seks di zaman sekarang ini yang memberi dampak hilangnya  nilai moral remaja. Guru dan orang tua adalah pelaku utama pembentukan dan penanaman nilai moral dalam membantu serta implementasinya terhadap dunia pendidikan. Makalah ini dibuat guna untuk memenuhi tugas mata kuliah “Perkembangan Peserta Didik“ yang dibimbing oleh Dra.Aflely Dewina M.pd.Saya sebagai penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada kedua orang tua saya yang telah memberikan semangat kepada saya untuk dapat menyelesaikan makalah ini, kemudian kepada Ibu Dra.Aflely Dewina M.pd selaku dosen dari mata kuliah Perkembangan Peserta Didik ini karena dengan bimbingan beliau saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dalam penyusunannya tak luput dari kekhilafan penulis maka sangat diperlukan sekali kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Dan semoga makalah ini berguna terutama terhadap mahasiswa yang ingin mengetahui penyebab runtuhnya nilai moralitas pada diri remaja khususnya pelajar dalam mengembangkan taraf hidup manusia dengan kemajuan ilmu tekhnologi pada zaman modernisasi yang mempunyai korelasi dengan sikap prilaku remaja dalam melakukan aktifitas belajar serta usaha Guru dan orang tua dalam pembinana nilai moral anak-anaknya dalam segala jenis pergaulan. Makalah ini sebagai salah satu pedoman atau acuan materi pelajaran yang sangat bermanfaat bagi pembacanya, amin.

Padang, Februari 2012

Penulis
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR……………………………………………………………………...i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang …………………………………………………………………..........
B.     Ungkapan Masalah…………………………………………………………….............
C.     Tujuan Pembahasan ………………………………………………………...................

BAB II PERMASALAHAN
A.    Bagaimana kondisi masyarakat Indonesia tentang free seks………………………
B.     Apakah faktor-faktor yang mendorong remaja melakukan sex diluar nikah............
C.    Apakah dampak dari pergaulan bebas.......................................................................
BAB III PEMBAHASAN
A.    Pengertian Nilai dan Moral……………………………………………………………
B.     Definisi Free Seks dan Globalisasi …………………………………………………...
C.     Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Free Seks …………………................
D.    Faktor-faktor penyebab runtuhnya nilai moralitas remaja……………………….........
E.     Cara untuk memperbaiki moral remaja dan solusinya.………………………………..

BAB IV PENUTUP
A.    KESIMPULAN………………………………………………………………..............
B.     SARAN………………………………………………………………………..............

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada pembahasan ini penyusun akan mengangkat masalah Free Sex. Melihat dari perkembangan zaman sekarang ini, pergaulan terasa semakin bebas, bahkan terlalu bebas. Sehingga banyak remaja yang menyalahgunakan kebebasan itu sendiri. Banyak yang bilang masa remaja adalah masa yang paling indah untuk berpacaran. Tapi terkadang keindahan itu banyak yang di salah gunakan, pacaran banyak yang berakhir dengan bunuh diri, Free Sex dan kekerasan. Penyebab dari akhir pacaran seperti yang diatas, contohnya seperti remaja yang tidak mempedulikan dan menuruti perkataan serta nasihat dari orangtua, dan tidak jarang juga orang tua yang terlalu memberikan kebebasan kepada anak-nya sendiri. Yang namanya pacaran pasti ada dampaknya pada kehidupan kita entah itu positif atau negative tergantung pada kita yang menjalaninya. Hal ini sangat berpengaruh pada remaja yang mana cara berpacaran para remaja sangatlah antusias dalam melakukan seks bebas. Dorongan perasaan dan keinginan seksual cukup pesat pada remaja dapat mengakibatkan remaja menjadi rentan terhadap pengaruh buruk dari luar yang mendorong timbulnya perilaku seksual yang beresiko tinggi. Pengaruh buruk tersebut dapat berupa informasi-informasi yang salah tentang hubungan seksual, misalnya film-film, buku-buku, dan lainnya. Hal tersebut dapat mendorong remaja untuk berprilaku seksual aktif (melakukan hubungan intim sebelum menikah), yang mempunyai resiko terhadap remaja itu sendiri. Resiko tersebut dapat berupa kehamilan remaja dengan berbagai konsekuensi psikologi seperti putus sekolah, rasa rendah diri, kawin muda, dan perceraian dini. Selain itu, resiko lain yang dihadapi dari perilaku seksual aktif tersebut adalah abortus, penyakit menular, gangguan saluran reproduksi pada masa berikutnya (tumor), dan berbagai gangguan serta tekanan psikoseksual/sosial di masa lanjut yang timbul akibat hubungan seksual remaja pranikah.
Dengan terus berkembangnya teknologi, maka informasi yang salah tentang seksual mudah sekali didapatkan oleh para remaja, sehingga media massa dan segala hal yang bersifat pornografis akan menguasai pikiran remaja yang kurang kuat dalam menahan pikiran emosinya, karena mereka belum boleh melakukan hubungan seks yang sebenarnya yang disebabkan adanya norma-norma, adat, hukum dan juga agama. Semakin sering seseorang tersebut berinteraksi atau berhubungan dengan pornografi maka akan semakin beranggapan positif terhadap hubungan seks secara bebas demikian pula sebaliknya, jika seseorang tersebut jarang berinteraksi dengan pornografi maka akan semakin beranggapan negatif terhadap hubungan seks secara bebas. Apabila anak remaja sering dihadapkan pada hal-hal yang pornografi baik berupa gambar, tulisan, atau melihat aurat, kemungkinan besar dorongan untuk berhubungan secara bebas sangat tinggi, bisa lari ketempat pelacuran atau melakukan dengan teman sendiri.
Hal-hal yang merugikan dari perilaku terhadap seks bebas tidak akan terjadi, apabila individu memiliki kesadaran bertanggung jawab yang kuat. Dan bila remaja dihadapkan pada rangsangan sosial yang tidak baik seperti seks bebas maka remaja akan dapat menentukan sikap yang salah yaitu sikap yang negatif atau tidak mendukung perilaku terhadap seks bebas, sebaliknya bila remaja memiliki sikap dengan tanggung jawab yang rendah maka terbentuklah pribadi yang lemah sehingga mudah terjerumus pada pergaulan yang salah sehingga berlanjut kepada perilaku seks bebas.
B. Ungkapan masalahan
1.      Apa Pengertian Nilai dan Moral?
2.      Apa Definisi Free Seks dan Globalisasi?
3.      Apa Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Free Seks?
4.      Apa Faktor-faktor penyebab runtuhnya nilai moralitas remaja?
5.      Bagaimana Cara untuk memperbaiki moral remaja?
C. Tujuan
Ingin memberitahukan bahaya tentang pergaulan bebas, supaya masyarakat Indonesia mengetahui akibat dari pergaulan bebas itu. Dan menghindarinya supaya tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas tersebut, oleh karena itu penulis mengangkat masalah yang berkenaan dengan free sex, dengan tujuan memberitahukan bahwa remaja adalah generasi bangsa yang mengerti akan nporma-norma kehidupan.

BAB II
PERMASALAHAN

            Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju ketahap dewasa, dimana pada masa ini remaja memiliki rasa ingin mengetahui sesuatu hal dengan coba-coba hal yang baru. Remaja sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran dan posisi yang strategis. Mereka merupakan harapan masa depan bangsa. Maju atau mundurnya bangsa dan  Negara ada di pundak mereka. Kalau mereka maju maka majulah Negara, tetapi kalau mereka bobrok, mundur, dan loyo, maka mundurlah Negara. Sudut pandang psikologi para remaja sebagai generasi penerus memiliki potensi yang bisa dikembangkan secara maksimal. Potensi mereka yang prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotism dan idealism harus dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan yang terencana dan terprogram. Remaja sebagai generasi penerus juga memiliki kemampuan potensial yang bisa diolah menjadi kemampuan actual. Selain itu juga memiliki potensi kecerdasan intelektual,emosi dan sosial, berbahasa, dan keserdasan seni yang bisa diolah menjadi kecerdasan aktual yang dapat membawa mereka kepada prestasi yang tinggi dan kesuksesan.
Era globalisasi pada saat sekarang ini pertemanan, pergaulan sangat membawa pengaruh yang cukup tinggi terhadap remaja. Hal ini terjadi disebabkan karena Generasi remaja sekarang dihadapkan kepada problem- problem besar kehidupan dari akibat pola perteman, persahabatan dan pergaulanya dan kemajuan tekhnologi bahkan cenderungnya mengarahkan mereka pada pola kehidupan yang selalu berupaya menghindari kesukaran, mencari, dan memproduksi kemudahan-kemudahan dengan tawaran pemusatan hasrat, keinginan dan nafsu. Adapun  remaja melakukan hubungan sex bebas yang menyebabkan banyak remaja yang hamil diluar nikah:
1.      Bagaimana kondisi masyarakat Indonesia tentang pergaulan bebas pada zaman globalsasi?
2.      Apa Faktor-faktor yang mendorong remaja melakukan sex diluar nikah?
3.      Apa Dampak dari pergaulan bebas?


A. Kondisi Masyarakat Indonesia
Kondisi masyarakat Indonesia saat ini dalam keadaan anomie, yaitu system sosial dimana tidak ada petunjuk atau pedoman. Tingkah laku kebiasaan-kebiasaan dan aturan-aturan yang biasa berlaku tiba-tiba tidak berlaku lagi. Akibatnya terjadi individualisme, dimana individu-individu bertindak hanya menurut kepentingannya masing-masing dan tidak memperhatikan norma-norma. Keadaan anomie ini tentu hanya berlaku terhadap anggota masyarakat dewasa, melainkan juga terhadap genarasi muda. Salah satu bukti tentang adanya kondisi anomie dikalangan generasi muda adalah dalam segi kehidupan seksual, yaitu terjadinya pergaulan bebas.
Norma-norma masyarakat dan norma-norma agama seharusnya mampu mempengaruhi prilaku seorang sehingga menjadi filter terhadap terjadinya prilaku-prilaku negative, termasuk prilaku seks bebas namun dalam realitasnya teknologi komunikasi dan globalisasi telah menyebabkan masuknya bermacam-macam norma dan nilai-nilai baru yang berasal dari budaya luar. Dengan kata lain norma masyarakat dan norma agama kita telah tergeser oleh norma dan nilai-nilai baru dari budaya luar yang memicu terjadinya prilaku seks bebas. Ada beberapa sebab yang dapat dijadikan alasan merebaknya "wabah mengerikan" ini, di antaranya adalah:
1.  Pengaruh Negatif Media Massa
Media masssa seperti televisi, film, surat kabar, majalah dan sebagainya belakangan semakin banyak memasang dan mempertontonkan gambar-gambar seronok dan adegan   seks serta kehidupan yang glamour yang jauh dari nilai-nilai agama. Hal ini diperparah lagi dengan berkembangnya tehnologi internet yang menembus batas-batas negara dan waktu yang memungkinkan kawula muda mengakses hal-hal yang bisa meningkatkan nafsu seks. Informasi tentang seks yang salah turut memperkeruh suasana. Akibatnya remaja cenderung ingin mencoba dan akhirnya terjerumus kepada sex bebas (free sex).
2.  Lemahnya Keimanan
     Hampir semua, bila tidak mau dikatakan semua, perilaku seks bebas, tahu akan beban  dosa 
     yang mereka terima. Tapi entah kenapa, bagi mereka hal itu 'dibelakangkan' dan menjadikan 
     nafsu sebagai pemimpin. Ini menunjukkan lemahnya rasa keimanan mereka. 
3.  Tidak adanya pendidikan sex yang benar, tepat dan dilandasi nilai-nilai agama.
4.  Lemahnya pengawasan orang tua.
5.  Salah dalam memilih teman.
B. Faktor Yang Mendorong Remaja Melakukan Seks Diluar Nikah/ Seks Bebas
Faktor-faktor yang mendorong remaja melakukan hubungan seks di luar nikah, adalah:
·         Karena mispersepsi terhadap makna pacaran yang menganggap bahwa hubungan seks adalah bentuk penyaluran kasih sayang.
·         Karena kehidupan iman yang rapuh. Kehidupan beragama yang baik dan benar ditandai dengan pengertian, pemahaman dan ketaatan dalam menjalankan ajaran-ajaran agama dengan baik tanpa dipengaruhi oleh situasi kondisi apapun.
·         Masa remaja terjadi kematangan biologis. Seorang remaja sudah dapat melakukan fungsi reproduksi sebagaimana layaknya orang dewasa sebab fungsi organ seksualnya telah bekerja secara normal. Hal ini membawa konsekuensi bahwa seorang remaja akan mudah terpengaruhi oleh stimuli yang merangsang gairah seksualnya, misalnya dengan melihat Film porno, cerita cabul, dan gambar-gambar erotis. Kematangan biologis yang tidak disertai dengan kemampuan mengendalikan diri cenderung berakibat negatif, yakni terjadi hubungan seksual pranikah dimasa pacaran. Sebaliknya kematangan biologis yang disertai dengan kemampuan mengendalikan diri akan membawa kebahagian remaja dimasa depannya sebab ia tidak akan melakukan hubungan seksual pranikah.
·          Kurangnya kasih sayang orang tua, kurangnya pengawasan dari orang tua dan pergaulan dengan teman yang tidak sebaya.
·         Peran dari perkembangan Iptek yang berdampak negative, tidak adanya bimbingan kepribadian   dari sekolah.
·         Dasar-dasar agama yang kurang.
·         Tidak adanya media penyalur bakat dan hobinya.
·         Kebebasan yang berlebihan, masalah yang dipendam.
·         Pola kolektivitas (paguyuban) dalam masyarakat yang semakin mengerut akibat proses modernisasi dan globalisasi.
C. Dampak dari Bahayanya Pergaulan Bebas
Free Sex-nya sementara dari landasan teori yang menjelaskan bahwa salah satu penyebab perilaku Free Sex adalah karena mispersepsi terhadap pacaran sehingga dari situ menunjukan suatu perbedaan antara landasan pemahaman. Hal ini dapat terjadi karena pertama, secara teori seringkali diungkapkan bahwa sikap merupakan predisposisi (penentu) yang memunculkan adanya perilaku yang sesuai dengan sikapnya. Sikap tumbuh, diawali dari pengetahuan yang dipersepsikan sebagai suatu hal yang baik (positif) maupun tidak baik (negatif) kemudian diinternalisasikan kedalam dirinya. Dari apa yang diketahui tersebut akan mempengaruhi pada perilakunya kalau apa yang dipersepsikan tersebut bersifat positif, maka seseorang cenderung berperilaku sesuai dengan persepsinya. Kalau seseorang mempersepsikan secara negative, maka Ia pun cenderung melakukan kesalahan.
 Namun sering kali dalam kehidupan realitasnya, banyak faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku seseorang, misalnya lingkungan sosial, situasi atau kesempatan mungkin seseorang memiliki sikap positif terhadap sesuatu hal, tetapi dalam kenyataannya perilakunya tidak sesuai atau bertentangan dengan sikap tersebut, sementara remaja di Indonesia mempunyai pemahaman dan penilaian tersendiri mengenai pacaran, menunjukkan bahwa pacaran itu identik dengan konotasi negative yang lebih mengangap bahwa pacaran itu identik dengan perilaku yang tidak bisa terlepas dari aktifitas yang mengarah pada free sex. Faktor religiusitas berpengaruh negative terhadap perilaku free sex seseorang, semakin tinggi religiusitas seseorang maka makin rendah perilaku free sex-nya dan sebaliknya semakin rendah religiusitas seseorang maka akan semakin tinggi perilaku free sex-nya. Dari situ menunjukkan bahwa pemahaman dan pengamalan nilai-nilai serta ajaran-ajaran agama yang sudah terinternalisasi dalam kehidupan remaja ternyata berkolerasi signifikan dengan perilaku free sex. Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu system nilai yang memuat norma tertentu dan secara umum menjadi kerangka acuan dalam bersikap dan berprilaku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianutnya.
Pengaruh sistem nilai dalam agama, nilai pribadi dirasakan oleh individu sebagai prinsip yang menjadi pedoman hidup. Dalam realitanya memiliki pengaruh mengatur pola perilaku, pola berpikir dan pola bersikap. Ketika religiusitas seseorang baik maka Ia akan mempunyai keimanan dan ketakwaan yang kuat pula dalam mengendalikan keinginan-keinginan yang bertentangan dengan norma-norma agama. Dengan religiusitas yang baku, remaja mempunyai pengendali, sehingga tindakan yang dilakukannya selalu mengacu kepada ajaran-ajaran agama yang pernah diteriman. Dampak dari  sex bebas (free sex), khususnya pada remaja dapat dibagi menjadi beberapa:
1.  Bahaya Fisik
Bahaya fisik yang dapat terjadi adalah terkena penyakit kelamin (Penyakit Menular Sexual/ PMS)  dan HIV/AIDS serta bahaya kehamilan dini yang tak dikehendaki. PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual.  Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.  Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian. Penyakit klamin yang dapat terjadi adalah kencing nanah (Gonorrhoe), raja singa (Sifilis), herpes genitalis, limfogranuloma venereum (LGV), kandidiasis, trikomonas vaginalis, kutil kelamin dan sebagainya. Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di luar tubuh, gejala PMS lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan. Tanda-tanda PMS pada laki-laki antara lain:
·         berupa bintil-bintil berisi cairan,
·         lecet atau borok pada penis/alat kelamin,
·         luka tidak sakit; keras dan berwarna merah pada alat kelamin,
·         adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam,
·         rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin,
·         rasa sakit yang hebat pada saat kencing,
·         kencing nanah atau darah yang berbau busuk,
·         bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok. 
Pada perempuan sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari.  Jika ada    gejala, biasanya berupa antara lain:
·         rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual,
·         rasa nyeri pada perut bagian bawah,
·         pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin,
·         keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya,
·         keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal,
·         timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual,
·         bintil-bintil berisi cairan,
·         lecet atau borok pada alat kelamin.
Salah satu faktor terbesar yang mengakibatkan remaja kita terjerumus ke dalam prilaku seks bebas adalah kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Perilaku seks bebas pada remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting untuk mengantisipasi perilaku remaja tersebut. Sebagai makhluk yang mempunyai sifat egoisme yang tinggi maka remaja mempunyai pribadi yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan di luar dirinya akibat dari rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Tanpa adanya bimbingan maka remaja dapat melakukan perilaku menyimpang. Untuk itu, diperlukan adanya keterbukaan antara orang tua dan anak dengan melakukan komunikasi yang efektif.
2. Penyakit
Penyakit yang akan timbul akibat melakukan seks bebas yaitu salah satunya adalah penyakit Hepatitis B. Yang mana di Indonesia sekitar 1 dari 20 orang mengidap penyakit Hepatitis B. Penyakit ini dipicu oleh banyak hal, antara lain pola hidup tidak sehat, tidak menggunakan barang yang steril, dan seks bebas. Penularannya bisa melalui darah, ari-ari janin dan cairan tubuh yaitu air liur dan sperma. Menurut Dr. Widarjati S. KGEH dari Rumah Sakit Mitra Keluarga, Jakarta, Hepatitis B adalah radang yang mengenai jaringan hati (hepar). Seseorang bisa dikatakan terkena hepatitis tergantung pada jenis hepatitis itu sendiri dan faktor penyebabnya. Bisa disebabkan oleh infeksi virus, obat-obatan, bahan kimia, reaksi hipersensitivitas, dan bisa juga akibat dari suatu infeksi yang dapat menyebabkan kematian.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Makna Nilai dan Moral
Moral berasal dari bahasa Latin mores, dari suku kata mos yang artinya adat istiadat, kelakuan, watak, tabiat, akhlak. Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik, yang susila(Suyitni dalam Soenarjati 1989:25). Dari pengertian itu dikatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada. Dalam arti umum moral adalah tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Sebaliknya jika perilaku individu itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada, maka Ia akan dikatakan jelek secara moral.
 Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh, penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia, apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama, moral juga dapat diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.Oleh karena itu moral diartikan secara khusus sebagai kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk.

Moral memiliki 3 arti dasar yaitu:
1.      Nilai dan Norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya
2.      Kumpulan asas atau nilai moral.
Seperti: Kode Etik Jurnalistik
3.      Ilmu tentang yang baik atau buruk (Teori Pendidikan Nilai Moral).
B.  Arti Free Sex dan Globalisasi
Seks bebas ( Free Sex) merupakan tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual yang ditujukan dalam bentuk tingkah laku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Seks berarti jenis kelamin, hal yg berhubungan degan alat kelamin, berahi. Sedangkan bebas berarti lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dengan leluasa). Jadi seks bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan diluar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.
Globalisasi berarti sebuah proses saling keterhubungan antar negara dan masyarakat. Ini adalah gambaran bagaimana kejadian dan kegiatan di satu bagian dunia memiliki akibat signifikan bagi masyarakat dan komunitas di bagian dunia lainnya. Ini bukan saja soal ekonomi tapi bahkan meningkatnya saling ketergantungan sosial dan budaya dari desa global yang meniru dan menggunakan“. Dengan arti yang lain globalisasi adalah merupakan sebuah kategori luas yang mencakup banyak aspek dan makna. Globalisasi yang di tandai dengan pesatnya teknologi komunikasi dan transportasi, telah membuat dunia menjadi semakin kecil dan semakin terkoneksi, yang mengakibatkan meningkatnya interaksi antar individu, kelompok dari berbagai penjuru dunia. Dengan demikian interaksi yang telah berlangsung tidak terlepas dari pertukaran berbagai informasi antara individu, kelompok yang melintasi batas Negara, sehingga tidak menutup kemungkinan perubahan di beberapa aspek kehidupan terjadi. Perkembangan barang-barang seperti telefon, televise, dan internet, menunjukkan bahwa bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepat. Sementara melalui massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan hal dari budaya yang berbeda.
Globalisasi yang membentuk ruang pertumbuhan antara kultur global dan kultur lokal telah menjadikan proses tarik menarik antara pencakokan kultur atau imperialisme kultur. Dorongan yang semakin kuat oleh kekuatan internasional dan di bantu dengan semakin cepatnya informasi media telah meletakkan imperialisme kultur menjadi lebih dominan sehingga jangan heran apabila realitas homogenitas menjadi lebih dominan daripada hiterogenitas, adalah sebuah barang tentu jika hari ini bangsa kita juga tertular oleh penyakit hidonisme yang merupakan hasil pertautan dalam dunia global, antara nilai lokal dan nilai yang di bawa dari barat melalui globalisasi. Bagi bangsa barat budaya hidonisme merupakan suatu kewajaran bagi manusia karena setiap manusia pasti selalu mendambakan kesenangan dan kenikmatan, yang sering menjadi dasar bagi pandangan ini adalah (HAM).
C. Faktor-faktor Penyebab Runtuhnya Moralitas Remaja.
Beberapa hari belakangan ini kita mendengar adanya peristiwa bunuh diri yang terjadi sangat ramai. Entah kebetulan atau tidak, kebanyakan pelaku bunuh diri adalah para remaja terutama para wanita. Dan kejadian bunuh diri ini kebanyakan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan dan juga apartemen. Ini semua tidak lepas dari salah pergaulan yang mereka jalani. Memang tidak dipungkiri bahwa para generasi remaja jaman sekarang sangat mudah terguncang jiwanya. Mereka begitu rentan terhadap sebuah kejadian yang terjadi di sekitarnya, yang mengakibatkan mereka mudah depresi. Baik itu yang berasal dari keluarga ataupun lingkungan sekitarnya. Mungkin hal ini disebabkan oleh kehidupan generasi muda zaman sekarang yang bebas dan tidak memiliki aturan. Sehingga mereka dapat bertindak dengan sesuka hatinya tanpa memperdulikan sekelilingnya yang mungkin saja menggangu orang lain dan membuat orang lain tersinggung.
Hal ini terjadi disebabkan karena generasi remaja sekarang dihadapkan kepada problem- problem besar kehidupan dari akibat pola perteman, persahabatan dan pergaulanya dan kemajuan tekhnologi bahkan cenderungnya mengarahkan mereka pada pola kehidupan yang selalu berupaya menghindari kesukaran, mencari, dan memproduksi kemudahan-kemudahan dengan tawaran pemusatan hasrat, keinginan dan nafsu.
Memang saat ini pembelajaran kepribadian di tingkat sekolah mulai berkurang. Mereka tidak diajari cara menghadapi tantangan hidup dengan baik. Hanya pelajaran formal yang diutamakan sehingga moral generasi sekarang ini semakin jatuh dan melakukan segala sesuatu tidak dipikir dengan matang. Akibatnya, banyak kejadian yang melanggar norma-norma kehidupan. Mulai dari bunuh diri, hamil di luar nikah, narkoba dan masih banyak lagi. Bila semua ini terus terjadi, tidaklah mungkin bila suatu saat nanti negara ini akan hancur, karena, generasi muda yang kelak menjadi pemimpin bangsa ini memiliki moral yang buruk. Untuk itu kita sebagai generasi muda yang memiliki pendidikan harus bersikap yang baik sesuai dengan aturan kehidupan yang ada.
Faktor-Faktor yang menyebabkan runtuhnya moralitas remaja yaitu:
1.      Faktor keluarga yang paling menentukan terwujudnya moral anak bangsa yang baik adalah dari orang tua. Banyak orang tua yang tidak peduli kepada anak-anak nya atau tidak berperilaku adil kepada anak-anak nya. Orang tua terkadang lebih mengekang anaknya agar menjadi sesuai dengan apa yang diinginkannya.
2.      Pentingnya pendidikan, baik disekolah maupun dimana yang tidak baik adalah timbulnya ketidakadilan kepada pendidik. Contohnya, guru yang memberikan pertanyaan hanya kepada orang yang pintar saja sedangkan orang yang kurang pintar tidak diperhatikan sama-sekali. Ini bisa membuat si kurang pintar menjadi iri dan tertekan karena si pendidik itu tidak adil terhadap orang yang masih kurang pintar. Apabila anak dididik tidak baik maka menjadi tidak baik begitu sebaliknya.
3.      Perkembangan teknologi yang sangat cepat. Teknologi yang semakin modern, memungkinkan penggunanya untuk dapat mengakses informasi dengan sangat cepat. Sebut saja ada video mesum terbaru yang beredar di sebuah media atau internet. Maka dengan bantuan internet, video tersebut dapat tersebar luas dengan hitungan menit kesemua daerah di seluruh nusantara ini dengan bantuan internet.Dan  juga facebook sebuah media komunikasi yang memiliki banyak dampak bagi pelajar dan anak bangsa seperti:
·         Membuat seseorang menjadi autis
·         Kurangnya sosialisasi dengan lingkungan
·         Menghamburkan uang
·         Mengganggu kesehatan
·         Berkurangnya waktu belajar
·         Kurangnya perhatian untuk keluarga
·         Tersebarnya data pribadi
·         Mudah menemukan sesuatu berbau pornografi dan sex
·         Rawan terjadinya perselisihan
·         Penipuan dan Lain-lain.
4.      Berkurang nilai-nilai pendidikan moral disetiap jenjang pendidikan formal. Mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan cenderung diarahkan kepada pencapaian kemampuan kognitif siswa saja.
5.      Pola kolektivitas (paguyuban) dalam masyarakat yang semakin mengerut akibat proses mondernisasi dan globalisasi. Artinya nilai-nlai sosial dalam kehidupan bermasyarakat telah berganti dengan semangat indiviualisme sehingga memperlemah kontrol sosial dalam masyarakat tersebut sehingga penyimpangan mulai marak dan tinggi intensitasnya.
D. Cara untuk memperbaiki moralitas remaja ditengah arus Globalisasi
Anak remaja pada umumnya, merupakan anak yang sedang mencari jati dirinya.Yang terkadang melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukannya. Namun, pada zaman sekarang kebanyakan  remaja yang sedang berkembang melakukan hal-hal yang tidak memiliki moral.Seperti tidak menghargai orang tuanya dan guru-gurunya disekolah. Namun ini hanya sebagian kecilnya saja. Padahal, seharusnya seorang anak harus memiliki moral yang baik karena para pemuda –pemudi ini yang kelak akan menjadi penerus bangsa.Moral yang harusnya dimiliki anak remaja adalah seperti berikut: berperilaku baik,melakukan kewajibannya,berbudi pekerti,dll. Namun pada  saat ini moral yang dimiliki anak remaja adalah berperilaku bejat, bermabuk-mabukan,bermain judi bahkan bermain perempuan. Hal  tersebutlah yang menyatakan bahwa anak remaja telah mengalami kemerosotan akhlak dan kerusakan moral yang memprihatinkan semua pihak.
Mereka memiliki potensi moral yang dapat diolah dan dikembangkan menjadi moral yang positif sehingga mampu berpartisipasi aktif dalam pembangunan bangsa dan Negara yang penuh dengan kejujuran, tidak korup, semangat yang tinggi dan bertanggungjawab. Potensi mereka yang prospektif, dinamis, energik, penuh vitalitas, patriotisme dan idealisme telah dibuktikan ketika jaman Pergerakan Nasional, pemuda pelajar telah banyak memberikan kontribusi dalam kehidupan berbangsa dan berNegara. Hal itu bisa terwujud apabila semua potensi mereka dikembangkan dan salah satunya adalah potensi moral. Oleh karena itu remaja sebagai generasi penerus harus diselamatkan melalui Pendidikan Nilai Moral. Sehingga harkat dan martabat bangsa bias terangkat. Kualitas hidup meningkat, dan kesejahteraan serta kenyamanan pun bisa didapat.
Ada 5 Cara yang harus dilakukan oleh para remaja maupun para pemuda yaitu:
1.      Mari kita meningkatkan kualitas diri,yakni bagaimana cara kita untuk mencitrakan diri sebagai   seorang pelajar: berupaya terus  menguatkan iman dan kepercayaan masing-masing.
2.      Menjadi cerdas dan bijak dalam menghadapi problem-problem besar.
3.      Memperbaiki system pendidikan yang ada di Indonesia agar menjadi system pendidikan yang lebih baik lagi.
4.      Memperbaiki keagamaan para remaja Indonesia dengan cara banyak melakukan kegiatan keagamaan.
5.      Menyaring setiap budaya yang masuk kedalam kehidupan para remaja.
Dilihat dari substansinya, ada empat pendekatan yang dianggap sebagai gerakan utama dalam pendidikan nilai yang komprehensif terhadap remaja yaitu realiasi nilai, pendidikan watak, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan moral. Pendidikan moral merupakan salah satu pendekatan yang dianggap sebagai gerakan utama dalam pendidikan nilai secara komprehensif. Tujuan utama pendidikan moral adalah menghasilkan individu yang otonom, memahami nilai-nilai moral dan memiliki komitmen untuk bertindak konsisten dengan nilai-nilai tersebut. Pendidikan moral mengandung beberapa komponen yaitu: pengetahuan tentang moralitas, penalaran moral, perasaan kasihan dan mementingkan kepentingan orang lain, dan tendensi moral (Zuchdi, 2003:13).Adapun beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral pada remaja menurut Dwi Siswoyo dkk, (2005:72-81) adalah indoktrinasi, klarifikasi nilai, teladan atau contoh, dan pembiasaan dalam perilaku.
a)      Indoktrinasi
Menurut Kohn (dalam Dwi Siswoyo, 2005:72) menyatakan bahwa untuk membantu anak-anak supaya dapat tumbuh menjadi dewasa, maka mereka harus ditanamkan nilai-nilai disiplin sejak dini melalui interaksi guru dan siswa. Dalam pendekatan ini guru diasumsikan telah memiliki nilai-nilai keutamaan yang dengan tegas dan konsisten yang ditanamkan kepada anak. Aturan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan disampaiakan secara tegas secara terus menerus dan konsisten. Jika anak melanggar maka Ia dikenai hukuman, akan tetapi bukan berupa kekerasan.
b)      Klarifikasi Nilai
Dalam pendekatan klarifikasi nilai, guru tidak secara langsung menyampaikan kepada anak mengenai benar salah, baik buruk, tetapi siswa diberi kesempatan untuk menyampaiakan dan menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. Anak diajak untuk mengungkapkan mengapa perbuatan ini benar atau buruk. Dalam pendekatan ini anak diajak untuk mendiskusikan isu-isu moral. (Dwi Siswoyo (2005:76).
c)      Teladan atau Contoh
Anak-anak mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru. Oleh karena itu seorang guru hendaknya dapat dijadikan teladan atau contoh dalam bidang moral. Baik kebiasaan baik maupun buruk dari guru akan dengan mudah dilihat dan kemudian diikuti oleh anak. Figur seorang guru sangat penting utuk pengembangan moral anak. Artinya nilai-nilai yang tujuannya akan ditanamkan oleh guru kepada anak seyogyanya sudah mendarah daging terlebih dahulu pada orang tua dan gurunya.
d)     Pembiasaan dalam Perilaku
Kurikulum yang terkait dengan penanaman moral, lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran. Ini dapat dilihat misalnya, pada berdoa sebelum dan sesudah belajar, berdoa sebelum makan dan minum, mengucap salam kepada guru dan teman, merapikan mainan setelah belajar, berbaris sebelum masuk kelas dan sebagainya. Pembiasaan ini hendaknya dilakukan secara konsisten, jika anak melanggar segera diberi peringatan. Pendekatan lain yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral menurut W. Huitt (2004) diantaranya adalah inculcation, moral development, analysis, klarifikasi nilai, dan action learning.
Ø  Inculcation
Pendekatan ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepada siswa serta untuk mengubah nilai-nilai dari para siswa yang mereka refleksikan sebagai nilai tertentu yang diharapkan. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya modeling, penguatan positif atau negatif, alternatif permainan, game dan simulasi, serta role playing.
Ø  Moral development
Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu siswa mengembangkan pola-pola penalaran yang lebih kompleks berdasarkan seperangkat nilai yang lebih tinggi, serta untuk mendorong siswa mendiskusikan alasan-alasan pilihan dan posisi nilai mereka, tidak hanya berbagi dengan lainnya, akan tetapi untuk membantu perubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa. Metode yang dapat digunakan diantaranya episode dilema moral dengan diskusi kelompok kecil yang dapat menumbuhkan nilai dan jiwa norma yang beradab.
Ø  .Analysis
Pendekatan ini bertujuan untuk membantu siswa menggunakan pikiran logis dan penelitian ilmiah untuk memutuskan masalah dan pertanyaan nilai, untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional, proses-proses analitik, dalam menghubungkan dan mengkonseptualisasikan nilai-nilai mereka, serta untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola-pola perilakunya. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya diskusi rasional terstruktur yang menuntut aplikasi rasio sama sebagai pembuktian, pengujian prinsip-prinsip, penganalisaan kasus-kasus analog dan riset serta debat.
Ø  Klarifikasi nilai
Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mereka miliki dan juga yang dimiliki oleh orang lain, membantu siswa mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka, dan membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal, nilai-nilai dan pola berikutnya.
Ø  Action learning
Tujuan dari pendekatan ini adalah memberi peluang kepada siswa agar bertidak secara personal ataupun sosial berdasarkan kepada nilai-nilai mereka, mendorong siswa agar memandang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang tidak secara otonom interaktif dalam hubungan sosial personal, tetapi anggota suatu sistem sosial. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini adalah metode-metode didaftar atau diurutkan untuk analisis dan klarifikasi nilai, proyek-proyek di dalam sekolah dan praktek kemasyarakatan, keterampilan praktis dalam pengorganisasian kelompok dan hubungan antar pribadi.
E. Implementasi Penanaman Nilai Moralitas dan solusinya
Pendidikan moral tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah oleh guru saja. Ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Tiga lingkungan yang amat kondusif untuk melaksanakan pendidikan ini, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan masyarakat. Diantara ketiganya, merujuk pada Dobbert dan Winkler (1985), lingkungan keluarga merupakan faktor dominan yang efektif dan terpenting. Peran keluarga dalam pendidikan nilai adalah mendukung terjadinya proses identifikasi, internalisasi, panutan, dan reproduksi langsung dari nilai-nilai moral yang hendak ditanamkan sebagai pola orientasi dari kehidupan keluarga. Lingkungan keluarga menjadi lahan paling subur untuk menumbuh kembangkan pendidikan moral. Secara operasional, yang paling perlu diperhatikan dalam konteks di lingkungan keluarga adalah penanaman nilai-nilai kejujuran dalam segenap aspek kehidupan keluarga. Contoh sikap dan perilaku yang baik oleh orang tua dalam pergaulan dan kehidupan mereka dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya. Hal yang tidak kalah penting, pendidikan moral harus dilaksanakan sejak anak masih kecil dengan jalan membiasakan mereka kepada peraturan-peraturan dan sifat-sifat yang baik, serta adil. Sifat-sifat tersebut tidak akan dapat difahami oleh anak-anak, kecuali dengan pengalaman langsung yang dirasakan akibatnya dan dari contoh orang tua dalam kehidupannya sehari-hari.
Pendidikan moral yang paling baik sebenarnya terdapat dalam agama, karena nilai-nilai moral yang dapat dipatuhi dengan kesadaran sendiri tanpa ada paksaan dari luar, datangnya dari keyakinan beragama yang harus ditanamkan sejak kecil. Lingkungan pendidikan juga menjadi wahana yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan mental serta moral anak didik. Untuk itu, sekolah diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan yang sejuk untuk melakukan sosialisasi bagi anak-anak dalam pengembangan mental, moral sosial dan segala aspek kepribadiannya. Pelaksanaan pendidikan moral di kelas hendaknya dipertautkan dengan kehidupan yang ada di luar kelas. Pendidikan moral bisa disamakan pengertiannya dengan pendidikan budi pekerti. Pendidikan moral merupakan pendidikan nilai-nilai luhur yang berakar dari agama, adat-istiadat dan budaya bangsa Indonesia dalam rangka mengembangkan kepribadian supaya menjadi manusia yang baik. Secara umum, ruang lingkup pendidikan moral adalah penanaman dan pengembangan nilai, sikap dan perilaku sesuai nilai-nilai budi pekerti luhur. Di antara nilai-nilai yang perlu ditanamkan adalah sopan santun, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertakwa, berkemauan keras, bersahaja, bertanggung jawab, bertenggang rasa, jujur, mandiri, manusiawi, mawas diri, mencintai ilmu, menghargai karya orang lain, rasa kasih sayang, rasa malu, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, semangat kebersamaan, setia, sportif, taat asas, takut bersalah, tawakal, tegas, tekun, tepat janji, terbuka, dan ulet. Jika anggota masyarakat telah memiliki karakter dengan seperangkat nilai budi pekerti tersebut, diyakini ia telah menjadi manusia yang baik.
Para pakar meyakini bahwa keluarga adalah lingkungan pertama dimana jiwa dan raga anak akan mengalami pertumbuhan dan kesempurnaan. Untuk itulah keluarga memainkan peran yang amat mendasar dalam menciptakan kesehatan kepribadian anak dan remaja. Tentu saja status sosial dan ekonomi keluarga di tengah masyarakat berpengaruh pada pola berpikir dan kebiasaan anak. Dengan demikian, berdasarkan bentuk dan cara interaksi keluarga dan masyarakat, anak akan memperoleh suasana kehidupan yang lebih baik, atau sebaliknya, akan memperoleh efek yang buruk darinya. Dalam pendidikan moral secara konvensional, untuk membentuk moral yang baik dari seseorang, diperlukan latihan dan praktek yang terus menerus dari individu. Hal ini menunjukkan pentingnya pemantapan nilai-nilai moral dalam kehidupan keluarga dan masyarakat secara kontinyu, terus menerus dan berkesinambungan.
Moralitas dalam diri seseorang dapat berkembang dari tingkat yang rendah ke tingkatan yang lebih tinggi seiiring dengan kedewasaannya. Lawrence Kohlberg (1976) menggambarkan tiga tingkatan moralitas yang dikaitkan dengan perspektif sosial yang meliputi preconventional, conventional, dan post conventional atau principled. Pada tingkat preconventional (tingkatan moralitas yang paling rendah) perspektif sosial moralitas seseorang menunjukkan bahwa dirinya merupakan individu yang kongkrit. Oleh karena itu, perilaku resiprokal sangat penting bagi orang yang berada dalam tingkat moralitas ini. Dalam tingkatan moralitas ini kita sering menjumpai perilaku seseorang  dengan penalaran yang menunjukkan perspektif sosial seperti: karena dia menyakiti saya, maka dia ganti saya sakiti; karena dia mencuri milik saya, maka saya juga berhak mencuri milik dia; karena orang-orang eksekutif ada yang  korupsi mengapa saya sebagai wakil rakyat tidak boleh korupsi, dan lain sebagainya. Pola berpikir moral seperti ini tentu bisa dilakukan secara kolektif yang kemudian mencerminkan suatu moralitas bangsa. Pada hakikatnya peraturan adalah untuk kesejahteraan manusia, ketika dengan peraturan itu manusia tidak sejahtera, maka sebaiknya peraturan itu yang seharusnya diubah. Dalam tahapan ini alasan moral yang universal paling dominan. Orang tidak melakukan korupsi bukan karena takut dengan hukum, dengan jaksa, polisi, dan lain sebagainya, tetapi dia tidak melakukannya karena korupsi itu memang tidak pantas dilakukan oleh siapapun karena melanggar prinsip moral seperti kejujuran, mencederai kepercayaan orang lain, tidak sesuai dengan nurani, harkat, dan martabat kemanusiaan.
Selain keluarga, penanaman nilai moral juga sangat efektif dilakukan dalam kehidupan masyarakat. Seluruh anggota keluarga pada dasarnya adalah anggota dari sebuah kelompok masyarakat. Dengan demikian, terjadi suasana hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antara keluarga dengan masyarakat. Kumpulan dari keluarga yang berkualitas, akan melahirkan masyarakat yang berkualitas. Sebaliknya, masyarakat yang berkualitas akan membentuk dan menguatkan keluarga yang berkualitas. Tidak dapat dipisahkan antara keluarga dengan masyarakat, kendati tidak bisa didefinisikan dengan “mana ayam mana telur”. Kedua lembaga ini jelas memiliki keterkaitan yang sangat kuat dalam memberikan pengaruh satu kepada yang lainnya. Apabila moral dalam keluarga dan masyarakat berhasil dimantapkan, akan menjadi jawaban ampuh menghadapi krisis kemanusiaan yang ditimbulkan oleh peradaban modern dan globalisasi saat ini. Kemajuan Indonesia di masa yang akan datang, bertumpu kepada keberhasilan melakukan pemantapan moral dalam kehidupan keluarga dan masyarakat seluruhnya. Ketertinggalan ilmu pengetahuan dan teknologi mudah dikejar oleh Indonesia, keterbelakangan ekonomi bisa diatasi dengan berbagai program yang dirancang para ahli, namun keruntuhan moral merupakan petaka yang sangat pantas ditangisi. Telah banyak orang pandai, namun tidak memiliki landasan moral yang memadai. Dampaknya kepandaian yang dimiliki justru menjadi potensi destruktif yang merugikan bangsa dan negara tercinta. Tentu saja hal ini merupakan sebuah tantangan berat yang harus dijawab oleh segenap komponen bangsa. Tidak banyak waktu kita miliki, sebelum krisis kemanusiaan semakin menjadi-jadi dan berubah menjadi petaka kemanusiaan yang bisa mengubur sejarah sebuah negara bernama Indonesia.















BAB IV
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Pesatnya perkembangan Zaman membuat pergaulan menjadi bebas, sehingga banyak remaja yang bergaul tanpa batasan dan etika. Contohnya dalam berpacaran, para remaja berpacaran tidak mempunyai batasan serta etika sehingga dalam berpacaran lebih banyak dampak negative dibandingkan dampak positif seperti halnya seks bebas. Seks bebas terjadi karena adanya beberapa faktor yang mendorong remaja terjerumus pada seks bebas sehingga banyak remaja yang kehilangan masa-masa remajanya dikarenakan melakukan seks bebas sehingga terjadilah pernikahan dini ataupun kematian. Kematian ini bisa terjadi karena melakukan aborsi ataupun bunuh diri karena tidak siapnya menerima kenyataan (hamil diluar nikah). Arus Globalisasi yang makin pesat cukup membuat remaja cepat terpengaruh ke ha-hal negative, hal ini dipicu karena kurangnya control diri remaja dan penanaman norma yang kurang baik sehingga memungkinkan remaja untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan dirinya sendiri. Semua kalangan terutama orang tua dan pendidik harus bekerja-sama dan bekerja keras untuk mendidik dan menanamkan nilai norma terhadap remaja agar, ancaman dan gangguan dapat di antisipasi dengan baik.
B. Saran
Beberapa saran yang perlu diperhatikan adalah:
  • Kepada pihak orang tua, agar memperhatikan dalam membimbing dan mengarahkan remaja dengan dalam memberikan pandangan yang benar mengenai persepsi pacaran agar terhindar dari free sex.
  • Kepada generasi muda agar menetapkan tujuan dan arah hidup yang jelas, belajar lebih mengenal diri sendiri, meningkatkan ke imanan dan ketakwaannya dengan mengisi kegiatan yang bermanfaat serta bergaul dengan teman secara benar sehingga dapat terhindar dan terjerumus pada perilaku free sex.
  • Kepada para siswa agar selain belajar juga ikut ambil bagian dalam kegiatan yang positif dan kreatiff dalam rangka menyalurkan energi yang berlebih sehingga tidak mengarah pada penyaluran dorongan biologis secara langsung, misalnya dengan kegiatan keolahragaan, pecinta alam, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat mengembangkan potensi dan bakat masing-masing.
  • Kepada semua pihak agar bekerja sama dalam mendidik remaja, serta menjadi tauladan, contoh yang patut ditiru bagi remaja sehingga dapat menghindari remaja untuk melakukan ha-hal yang negative.















DAFTAR PUSTAKA

Bahan Ajar.2005. Perkembangan Peserta Didik. Padang: UNP Press
Internet. 2009. Makna Globalisasi.http://www.balipost.co.id. (Online 02-02-2009)
Dobbert dan Winkler, 1985. Makna Nilai dalam Keluarga. http://lib.atmajaya.ac.id,2009





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar